Pendidikan

Just another WordPress.com weblog

Lima Butir Kentang Februari 14, 2010

Filed under: Dongeng anak — hanims @ 2:51 pm
Tags:

Lima Butir Kentang

Dongeng dari India.

Tersebutlah di sebuah dusun di pinggir kota tingal sebuah keluarga. Kepala keluarganya bernama Dheda. Dia tinggal bersama istrinya dan ketiga anaknya. Mereka sangat miskin, hingga untuk makan sehari-hari saja mereka sering kekuarangan. Maklumlah, Dheda hanya mengandalkan hasilnya mencari kayu bakar di hutan yang kemudian dia jual ke pasar. Hasilnya memang tidak seberapa. Tapi dari sanalah mereka bisa bertahan hidup.

Namun sudah seminggu ini hujan terus menerus turun dengan lebatnya. Dheda tidak bisa pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Mereka terpaksa bertahan dengan persediaan makanan di gudang. Tentu saja lama-lama persediaan mereka semakin sedikit, hingga suatu hari istri Dheda menghampirinya.
“Ayah, saya khawatir dengan keadaan anak-anak kita. Kita tidak punya persediaan makanan lagi. Makanan yang tersisa hanya tinggal 5 butir kentang. Dan itupun tidak cukup untuk makan kita berlima. Kita harus segera mencari uang untuk membeli makanan!” katanya.
“Aku tahu…,” kata Dheda. “Tapi bagaimana lagi? Hujan tidak juga mau berhenti. Aku tidak bisa mencari kayu ke hutan. Bersabarlah bu! Mudah-mudahan besok hari terang dan aku bisa bekerja. Biarlah persediaan terakhir kita anak-anak saja yang makan.”

Menjelang sore ada yang mengetuk pintu rumah Dheda. Ternyata seorang pengemis tua yang basah kuyup berdiri di luar pintu rumahnya. Pengemis itu tampak kedinginan. Dheda segera menyuruhnya masuk supaya terhindar dari hujan.
“Terima kasih tuan,” kata pengemis tua, “saya sudah berhari-hari kehujanan. Tidak ada tempat untuk berteduh. Dan perutku lapar sekali. Kalau boleh, saya ingin meminta sisa makanan untuk mengganjal perutku.”
Dheda terdiam. Dia kasihan sekali melihat pengemis tua itu. Tapi mereka tidak punya persediaan makanan lagi.
“Sayang sekali aku tidak memiliki sisa makanan. Karena saat ini kami pun sedang kekurangan makanan,” kata Dheda.
“Oh kasihanilah saya Tuan! Sudah tiga hari ini saya belum makan,” kata pengemis
Dheda merasa sangat iba, maka dia segera menghampiri istrinya dan berkata, “Bu, saya kasihan melihat pengemis tua itu. Bagaimana kalau kita berikan saja persediaan makanan terakhir kita. Mudah-mudahan anak-anak bisa bertahan dan besok hujan berhenti sehingga aku bisa bekerja mencari rizki.”
“Baiklah pak, saya akan segera memasak kentangnya,” kata istrinya

Akhirnya istri Dheda mengukus kentang yang tinggal 5 butir tersebut dan menghidangkannya kepada si pengemis tua. Pengemis itu memakan keempat kentangnya dan menyisakan sebutir kentang saja. Kemudian setelah beristirahat sejenak, si pengemis itu pun berpamitan, “terima kasih tuan. Karena tuan, hari ini perutku tidak kelaparan.”
“Sama-sama kek,” kata Dheda. “Sudah seharusnya kita saling menolong. Tapi kenapa kakek tidak menunggu hujan reda? Bagaimana kalau kakek sakit?”
“Tidak apa-apa! Perutku sudah terisi, jadi aku pasti kuat meski kehujanan,” katanya.
“Baiklah kalu begitu! Hati-hati di jalan ya kek!” kata Dheda.
“O ya, tadi aku menyisakan sebutir kentang di piring. Jika nanti kalian ingin makan. Iris-iris kentang itu menjadi 5 iris. Pasti akan cukup unuk kalian berlima. Nah selamat tinggal!” kata pengemis tua.

Setelah kepergian pengemis tua itu, Dheda memandang satu butir kentang yang tersisa di piring dan berpikir, “mana mungkin 1 butir kentang ini bisa cukup untuk kami?” Namun karena penasaran, maka dia mengajak keluarganya untuk berkumpul dan kemudian mengiris-iris kentang itu menjadi 5 iris. Ajaib! Ternyata kelima iris kentang itu berubah menjadi 5 butir kentang Dan jika 1 butir kentang itu diiris menjadi 5 iris lagi akan berubah menjadi 5 butir kentang lagi demikian seterusnya. Alhasil Dheda dan keluarganya tidak kekurangan makanan, bahkan persediaan makanan mereka sekarang berlimpah. Dheda dan keluarganya sangat bersyukur atas anugrah-Nya. Tidak lupa dia pun membagi-bagikannya kepada tetangga-tetangga mereka yang kekurangan. Sayang, Dheda tidak pernah bisa menemukan pengemis tua yang telah memberikan keajaiban bagi keluarganya. Mereka hanya bisa mendoakan keselamatan baginya dan berharap yang terbaik untuknya.

(SELESAI)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s